PEMBAHASAN
Pada
bab ini penulis menguraikan dan membahas kesenjangan antara teori yang ada
dalam konsep dasar dengan kenyataan yang terjadi selama pengelolaan kasus yang
dilakukan pada tanggal 24 – 26 November 2011 pada An. N dengan dermatitis atopik
di ruang dahlai RSUD dr. H. SOEWONDO KENDAL. Pembahasan ini meliputi pengkajian, diagnosa keperawatan,
rencana tindakan keperawatan dan catatan keperawatan.
A. PENGKAJIAN.
Pengkajian adalah pemikiran dasar dari proses keperawatan
yang bertujuan untuk mengumpulkan informasi atau data tentang klien, agar dapat
mengidentifikasi, mengenali masalah-masalah, kebutuhan kesehatan dan
keperawatan klien, baik fisik, mental, sosial dan lingkungan (Potter, 2005)
|
Pengkajian yang lakukan penulis pada tanggal 24 November
2011 dengan tehnik observasi partisipasif dengan mengikuti pelaksanaan
perawatan selama 3 hari di ruang dahlia RSUD dr. H. Soewondo Kendal, serta
tehnik studi dokumenter dengan mendokumentasikan catatan perawatan, catatan
medis, hasil pemeriksaan laboratorium.
Pada
saat pengkajian penulis tidak
mengalami hambatan karena
orang tua klien dan keluarga
kooperatif sehingga penulis mendapatkan
data yang diperlukan
dengan mudah akan tetapi penulis
lupa mencantumkan data yang sesuai dengan pengkajian, seharusnya penulis juga
mencantumkan tentang lokasi dan
gambaran kerusakan
kulit secara lengkap, namun penulis
hanya mencantumkan terjadi kerusakan kulit pada kedua tangan dan kaki, dan juga
pada perut klien. Terlihat kemeran dan mengelupas pada jaringan kulit yang
rusak. Klien terlihat gelisah dan menggaruki
tubuhnya. klien merasa lemah, N : 120x/menit,RR : 40x/menit,S : 37,4ÂșC, dan
leucocit 17500. Sebenarnya data tersebut sangat dibutuhkan pada saat melakukan
tindakan untuk mengatasi masalah pada diagnosa kerusakan
integritas kulit dan resiko infeksi. Dari
pengkajian DDST penulis mendapatkan data bahwa Anak berusia 6 tahun dan sudah
bisa berpakaian sendiri tanpa bantuan. Anak
sudah mengenal angka dan huruf serta berhitung. Anak sudah bisa melempar dan menangkap
bola.Anak sudah bisa menggambar segi empat.
Pada pemeriksaan fisik, seharusnya pengukuran
antropometri ditulis secara lengkap. Pemeriksaan antropometri meliputi berat
badan (BB), tinggi badan (TB), lingkar lengan atas (LILA), lingkar kepala (LK),
lingkar dada (LD), dan lapis lemak bawah kulit (LLBK). Di sini penulis hanya
mencantumkan BB, TB, LK, LD. Untuk pengukuran LILA dan LLBK tidak penulis
lakukan karena penulis kurang cermat dalam melakukan pemeriksaan fisik.
Selain itu
dalam pengkajian pada laporan kasus, penulis juga belum mencantumkan keadaan
klien, gaya hidup dan lingkungan di sekitar klien saat di rumah. Sebelumnya
klien juga pernah menderita penyakit yang sama seperti saat sekarang ini
(dematitis atopik), saat klien belum masuk sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) pada
usia ± 4 tahun, namun tidak sampai masuk Rumah Sakit seperti saat ini. Pada
lingkungan anak-anak seusianya, klien merupakan anak yang aktif, sehingga klien
tidak begitu memperhatikan tentang kebersihan dirinya, klien hanya asik bermain
dengan teman-temannya. Pada anak dengan Dermatitis Atopik, kebersihan sangatlah
penting. Karena kelainan kulit ini mudah kambuh oleh beberapa faktor salah satunya
kebersihan diri dan lingkungan, oleh mikroorganisme melalui udara maupun kontak
langsung.
Keluarga
klien tinggal di pedesaan, yang tingkat kebersihannya kurang. Keluarga klien adalah
keluarga yang hidup dengan kesederhanaan. Dan pendidikan keluarga klien
rata-rata lulusan SMP dan SD, jadi belum begitu faham mengenai kebersihan,
terutama kebersihan anaknya yang mempunyai riwayat alergi kelainan kulit. Ayah
dan ibu klien bekerja sebagai buruh tani. Keluarga klien makan sehari 3x dengan
menu seadanya dan tidak mesti selalu tepat pada jam makan. Dan untuk memenuhi
syarat hidup bersih dan sehat, keluarga klien belum masuk dalam keuarga yang
bersih dan sehat. Karena beberapa faktor antra lain, ekonomi dan lingkungan
rumah, lantai masih tanah, mata air sumur, WC berada di sungai, tempat
pembuagan sampah juga masih di sungai, dan tatanan rumah yang kurang rapi.
Dan penulis tidak melakukan
pengujian alergi yang lain seperti uji alergi terhadap alergen hirup, untuk
mengetahui apakah klien mempunyai alergi terhadap lingkuan sekitar. Dan
pengujian infeksi kulit, karena mikroorganisme yang masuk dapat menimbulkan
kekambuhan pada penderita dermatitis atopik. Dua uji alergi tersebut tidak
dilakukan penulis, karena penulis belum mengetahui cara dan metode untuk
melakukan uji alergi terseut diatas.
Pada pengkajian uji alergi, penulis hanya melakukan skin
test pada klien. Karena pengujian alergi sangat penting bagi klien masalah
alergi dengan diagnosa dermatitis atopik, dan untuk mengetahui apakah klien
mempunyai faktor pencetus alergi lain. Karena dari data pengkajian yang
didapatkan dari orang tua klien, klien mempunyai alergi terhadap makanan
seperti kerang dan sosis, Dan klien juga mempunyai faktor pendukung lain yaitu
faktor genetik. bahwa di dalam keluarga klien ada yang mempunyai riwayat alergi
yang sama yaitu kakek dari klien.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa
yang muncul dan ditemukan pada tinjauan teori dan kasus ada perbedaan sedikit.
Berdasarkan pathways dan diagnosa intervensi pada bab II terdapat kesenjangan
antara teori dan kasus, jika diteori terdapat
4 diagnosa keperawatan, tetapi dikasus terdapat 5 diagnosa keperawatan.
Namun pada saat pengkajian penulis menemukan 5 diagnosa pada kasus, karena saat
pengkajian klien mempunayai komplikasi pada sistem pernafasan. Diagnosa pada kasus yaitu Hipertermi
berhubungan dengan
Proses infeksi, Jalan nafas tidak efektif
berhubungan dengan Penyempitan jalan nafas/ penumpukan sekret berlebih, Kerusakan integrias kulit berhubungan
dengan Terpapar alergen, Resiko infeksi berhubungan
dengan Kerusakan jaringan dan peningkatan
paparan lingkungan, Gangguan rasa naman : nyeri (gatal) berhubungan
dengan Agen injuri atau allergen.
Pada laporan kasus, penulis tidak
mengangkat diagnosa kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tentang penyakit. Dengan alasan, karena dalam setiap melakukan tindakan
keperawatan, orang tua klien selalu ada dan mendampingi klien. Jadi menurut
penulis secara tidak langsung penulis dan perawat yang lain sudah memberikan
informasi pada orang tua klien, Mengenai perawatan pada klien dan apa yang
harus dilakukan pada klien dengan dermatitis atopik.
Pada
intervensi dalam laporan kasus pada setiap diagnosa, ada sedikit perbedaan
dengan teori pada laporan pendahuluan. Dikarenakan saat penulis merencanakan intervensi tidak
hanya berpacu pada teori, akan tetapi penulis juga melihat kondisi atau keadaan
klien yang langsung terlihat pad saat pengkajian dilapangan.
a. Diagnosa
yang muncul
1.
Hipertermi berhubungan dengan proses
infeksi.
Hipertermi adalah keadaan suhu tubuh
meningkat melebihi suhu tubuh normal secara terus menerus.(Nanda, 2010).
Data mayor : takikardia, kulit
hangat, per rectal, suhu melebihi batas normal.
Data minor : kulit kemerahan,
peningkatan kedalaman pernafasan, perasaan hangat dan dingin, berkeringat.
Diagnosa keperawatan ini dijadikan
penulis sebagai prioritas pertama. Kondisi ini didukung oleh data sebagai
berikut : Ibu klien mengatakan,anaknya panas 4 hiri sejak klien berada di rumah
sampai pengakajian yang dilakukan penulis S :37,4 C, leucosid :17.500, yang
menunjukan adanya proses infeksi terhadap kerusakan jaringan kulit, dan mukosa
kering.
Alasan penulis menjadikan diagnosa
ini dijadikan prioritas utama adalah jika tidak ditangani terlebih dahulu akan
menyebabkan kejang beruntun pada klien, merusak sel-sel otak dan juga
menyebabkan dehidrasi yang akan berpengaruh pada volume cairan dan nutrisi
klien.
Selanjutnya untuk mengatasi masalah
ini tanggal 24 November 2011, penulis
membuat perencanaan dengan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
3x24 jam, suhu tubuh kembali dalam batasan normal. Dengan kruteria hasil Suhu
tubuh stabil 36 – 37 C dan Bebas dari kedinginan.
Adapun perencanaan yang penulis buat
sebagai berikut Monitor KU & TTV klien, rasionalnya Memantau perkembangan
klien, terutama pantau pada suhu karena merupakan karakteristik utama
terjadinya hipertermi. Anjurkan konpres
hangat, rasionalnya Membantu menurunkan panas. Anjurkan minum banyak air putih,
rasionalnya Menghindarkan dari resiko terjadinya dehidrasi. Berikan obat-obat
antipiretik sesuai indikasi, rasionalnya menurunkan panas pada pusat
hipotalamus.
Tindakan yang akan dilakukan untuk
mengatasi diagnosa ini adalah : Memonitor KU & TTV klien, dengan hasil Ibu
klien mengatakan, anaknya
gatal-gatal, kulitnya mengelupas,sesak nafas dan
panas 4 hari, Klien terlihat mengruki tubuhnya. Pada perut dan kedua tangan,
kaki terlihat lesi.N: 120x/menit, S: 37,4C, RR: 40x/menit. Menganjurkan keluarga untuk kompres hangat, Klien
di kompres pada kening dan aksila klien. Menganjurkan minum banyak air putih,
Keluarga melakukan anjuran perawat dan Klien terlihat minum air putih. S:
37,4C. RR:40x/menit. Memberikan obat-obat antipiretik sesuai indikasi dan advis
dokter. Klien terlihat ingin menangis saat obat dimasukan lewat infus. Klien
mendapat therapy Dexametasone 4mg, O2 3 ltr/menit,Inf. D5 % 12 tpm.
Berdasarkan evaluasi yang
ditunjukkan klien, masalah keperawatan teratasi dengan hasil evaluasi pada
tanggal 24 November 2011 jam 13:25 WIB ,Ibu mengatakanklien sudah tidak panas
lagi. S :36,7C, Akral teraba hangat hangat. Tidak ada tanda-tanda yang
menunjukan dehidrasi, maka dari itu penulis mempertahankan intervensi yang telah disusun.
2.
Jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penyempitan jalan nafas/penumpukan
sekret berlebih.
Ventilasi atau pertukaran udara
inspirasi dan atau ekspirasi tidak adekuat. Keadaan ketika seorang individu
mengalami kehilangan ventilasi yang actual atau potensial yang berhubungan
dengan perubahan pola pernapasan. (Lynda Juall C, 383).
Batasan karakteristik mayor :
dispneu, terjadi cianosis
Batasan karakteristikn minor :
kerusakan otak.
Diagnosa keperawatan ini dijadikan
penulis sebagai prioritas kedua. Kondisi ini didukung oleh data sebagai berikut
: ibu mengatakan klien mengalami sesak nafas sehari setelah klien merasa
gatal-gatal. pada pengkajian RR : 40x/menit, dan terdapat secret, pada
pengkajian dada terdengar suara
wheezing, diagnosa gangguan pada pola pernafasan ini merupakan komplikasi yang
sering terjadi pada klien Dermatitis Atopik.
Bila diagnosa ini tidak di selesaikan terlebih dahulu bisa menyebabkan
kekurangan O2, hipoksia, yang menyebabkan kelemahan pada tubuh
klien, dan akan berakibat kematian.
Selanjutnya untuk mengatasi masalah
ini pada tanggal 24 November 2011, penulis membuat perencanaan dengan tujuan
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, pola nafas kembali efektif. Dengan kriteria hasil :Tidak
batuk dan RR dalam batas normal.
Adapun perencanaan yang penulis buat
sebagai berikut Anjurkan minum hangat dan Lakukan penghisapan lendir,
rasionalnya untuk Membantu mengencerkan sekret dan Lakukan dengan pengawasan
efektif. mengkaji TTV terutama pada pola nafasnya, dengan rasional, karena
pernafasan merupakan karakteristik utama adanya penyambatan jalan nafas.
Ajarkan batuk efektif pada klien, rasionalnya membantu pengeluaran sekret
secara efektif. Berikan antibiotik dan anti piretik sesuai indikasi,kaji efek
samping, rasionalnya pemberian obat sesuai indikasi akan mempercepat proses
penyembuhan, pemberantasan virus atau bakteri pada infeksi saluran pernafasan.
Tindakan yang akan dilakukan untuk
mengatasi diagnosa ini adalah : memberikan O2 sesuai kebutuhan
klien, untuk memenuhi suplai O2 secara adekuat, klien mendapatkan
therapy O2 3lt/menit.
Menganjurkan keluarga untuk memberikan minum hangat pada klien. Keluarga
melakukan anjuran perawat, terlihat klien minum hangat. Melakukan penghisapan
lendir dengan nebulizer 3x/hari, saat dilakukan tindakan klien batuk.
mengajarkan batuk efektif, klien batuk dan keluar sedikit sekret. Dan
memberikan antibiotik dan anti piretik sesuai indikasi,kaji efek samping, untuk
membantu proses penyembuhan dari dalam pemberantasan virus atau bakteri pada
infeksi saluran pernafasan.
Berdasarkan evaluasi yang
ditunjukkan klien, pada tanggal 24 November 2011, masalah keperawatan teratasi
sebagian dengan perolehan data, klien mengatakan anak sudah tidak sesak nafas,
Klien terlihat lebih nyaman, RR : 27x/menit, tetapi pada pemeriksan dada pada
Auskultasi : Masih terdengar wheezing. Maka dari itu penulis melanjutkan
intervensi yang sudah dilakukan.
3.
Kerusakan integrias kulit
berhubuangan dengan terpapar allergen.
kerusakan integritas kulit adalah Perubahan/gangguan
epidermis dan/atau dermis.(Nanda, 2010).
Batasan karakteristik mayor : gangguan kornea, integument atau
jaringan membrane mukosa atau invasi struktur.
Batasan karakteristik mayor : lesi, edema, eritema, leukoplakia,
lidah kotor.kekeringan membrane mukosa.
Diagnosa ini penulis tegakkan
sebagai prioritas ketiga karena penulis ingin menyelesaikan masalah pada
hipertermi dan gangguan pola nafas klien, sehingga diagnosa ini dijadikan
prioritas ke tiga oleh penulis dan sesuai dengan data yang ada yaitu Ibu klien
mengatakan,anaknya gatal-gatal,kulitnya mengelupas, dan data objektive Klien
terlihat menggaruki tubuhhnya, terdapat lesi, kemerahan pada kulit dan kulit
mengelupas.
Diagnosa ini dijadikan diagnosa ke
tiga karena menurut penulis ke dua diagnosa di atas jika tidak di selesaikan
terlebih dahulu akan menghambat proses penyembuhan klien. Dan diagnosa ini
ditegakkan karena jika tidak ditangani, akan memperluas kerusakan jaringan
kulit klien yang akan mengakibatkan perubahan pada turgor kulit, perubahan
status cairan klien.
Selanjutnya penulis membuat
perencanaan dengan tujuan setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24
jam, diharapkan kerusakan kulit dapat terhindari,
dengan kriteria hasil Itregritas kulit yang baik bisa dipertahankan, tidak da
luka atau lesi pada kulit.
Adapun perencanaan yang penulis buat
sebagai berikut Monitor KU akan adanya kemerahan rasionalnya Mengobservasi
tingkat kerusakan kulit.Anjurkan memakai pakaian yang longgar, rasionalnya
Menghindari melebarnya kerusakan jaringan. Jaga kebersihan agar tetap bersih
dan kering, rasionalnya Daerah yang lembab akan memper cepat tumbuhnya
mikroorganisme. Mobilisasi klien secara teratur, rasionalnya Mengurangi tekanan
pada kulit. Hindari kerutan pada tempat tidur, rasionalnya Tempat tidur yang
berkerut akan merusan jaringanyang mulai baik.
Tindakan yang akan dilakukan untuk
mengatasi diagnosa ini adalah : Memonitor KU akan adanya kemerahan, respon
klien Kliien mengatakan gatal-gatal. kemerahan pada tangan, perut, kaki. Kulit
mengelupas. Menganjurkan memakai pakaian yang longgar, Keluarga terlihat
mengangguk dan memilih pakaian yang longgar. Jaga kebersihan agar tetap bersih
dan kering. Memobilisasi klien secara teratur. Hindari kerutan pada tempat
tidur.
Berdasarkan evaluasi yang ditunjukkan
klien, pada tanggal 26 November 2011, masalah keperawatan teratasi sebagian
dengan didapatkan Klien mengatakan masih gatal. Integritas kulit mulai
membaik.Kulit bersih. Kemerahan mulai pudar (hilang). Maka dari itu penulis
melanjutkan intervensi yang sudah dilakukan.
4.
Resiko infeksi berhubungan dengan
Kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan.
Resiko infeksi adalah Mengalami
peningkatan resiko terserang organisme ptogenetik,(Nanda, 2010).
Batasan karakteristik mayor :
terjadi peningkatan leukosit , kenaikan nadi.
Batasan minor : adanya peningkatan
suhu tubuh.
Diagnosa keperawatan ini dijadikan
penulis sebagai prioritas ke empat. Kondisi ini didukung oleh data sebagai
berikut : Kulit Mengelupas. Terdapat kemerahan pada tangan, kaki, perut. Terasa gatal.
Diagnosa ini ditegakkan oleh penulis
berdasarkan hasil pengkajian diaatas. Akan menghambat proses pemulihan
kerusakan jaringan kulit klien, penyebaran bakteri/mikroorganisme dan akan
menjadi factor pemicu terjadinya komplikasi pada penderita dermatitis atopic
seperti rinhitis.
Selanjutnya untuk mengatasi masalah
ini pada tanggal 24 November 2011, penulis membuat perencanaan dengan tujuan
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan resikon infeksi dapat dihindari.
Dengan kriteria hasil Menunjukan kemampuan mencegah infeksi. Bebas dari
tanda-tanda infeksi.
Adapun perencanaan yang penulis buat
sebagai berikut Monitor tanda dan gejala infeksi, rasionalnya Mengobservasi
keadaan kulit akan adanya tanda infeksi. Berikan perawatan kulit, rasionanya
Mengugrangi resiko infeksi. Membuang jaringan yang mati, rasionalnya
Mempercepat penyembuhan. Anjurkan klien mencuci tangan sebelum melakukan
tindakan, rasionalnya Mencegah penyebaran mikroorganisme. Anjurkan klien untuk
mandi dengan air hangat yang diberi sabun (detol) dan keringkan dengan handuk
yang bersih, rasionalnya Untuk mencegah tumbuhnya mikro organisme penyebab
infeksi. Berikan therapy antibiotik, rasionalnya membunuh mikro organisme
penyebab infeksi.
Tindakan yang akan dilakukan untuk
mengatasi diagnosa ini adalah : Memonitor tanda dan gejala infeksi, respon
klien Kliien mengatakan gatal-gatal, kemerahan pada tangan, perut, kaki
dan Kulit mengelupas. memberikan
perawatan kulit, setelah mandi keluarga terlihat mengoleskan salp hidrokortison
pada kulit klien dengan petunjuk perawat. Membuang jaringan yang mati, Klien
terlihat menahan perih saat jaringan yang di ambili perawat. menganjurkan klien
untuk mandi dengan air hangat yang diberi sabun (detol) dan keringkan dengan handuk
yang bersih, Klien dimndikan (sibin) dengan air hangat yang di beri sabun.
Berikan therapy antibiotik, klien mendapatkan therapy Salp hidrokortison
2x/hari dan injeksi Dexametasone 3 x4mg.
Berdasarkan evaluasi yang
ditunjukkan klien, pada tanggal 26 november 2011, masalah keperawatan teratasi
sebagian dengan diperoleh data Ibu klien mengatakan kulit anaknya menbaik,
kering. Kulit bersih.Tidak ada tanda inveksi, Tidak ada perluasan kerusakan
jaringan, Klien terlihat lebih nyaman, Maka dari itu penulis melanjutkan
intervensi yang sudah dilakukan.
5.
Gangguan rasa naman : nyeri (gatal)
berhubungan dengan Agen injuri atau allergen.
Nyeri adalah suatu sensori yang
tidak menyenngkan dari satu pengalaman emosional yang disertai kerusakan
jaringan secara actual/potensial. (Medical Surgical Nursing ).
Batasan karakteristik mayor :
Komunikasi (verbal atau penggunaan kode) tentang nyeri yang dideskripsikan.
Batasan karakteristik mayor :
Agitas, ansietas, peka rangsang, menggosok bagian yang nyeri, mengatupkan rahang
atau mengepalkan tangan, rasa takut mengalami cidera tulang, menarik bila
disentuh.
(0) Tidak nyeri. (1-3) Nyeri ringan
: secara obyektif klien dapat berkomunikasi dengan baik. (4-6) Nyeri sedang :
Secara obyektif klien mendesis,menyeringai, dapat menunjukkan lokasi nyeri,
dapat mendeskripsikannya, dapat mengikuti perintah dengan baik. (7-9) Nyeri
berat : secara obyektif klien terkadang tidak dapat mengikuti perintah tapi
masih respon terhadap tindakan, dapat menunjukkan lokasi nyeri, tidak dapat
mendeskripsikannya, tidak dapat diatasi dengan alih posisi nafas panjang dan
distraksi. (10) Nyeri sangat berat : Pasien sudah tidak mampu lagi.
Diagnosa keperawatan ini dijadikan
penulis sebagai prioritas ke empat. Kondisi ini didukung oleh data sebagai
berikut : klien terlihat gelisah. P : Nyeri karena gatal-gatal. Q : Nyeri
dirasakan seperti terbakar. R :Nyeri dirasakan pada perut, kedua tangan dan
kaki. S : Skala nyeri 6. T : Nyeri
dirasakan hilng timbul (tiba-tiba) dan saat berkeringat.
Alasan diagnosa ini di tegakkan oleh
penulis karena bila tidak ditangani bisa berpengaruh pada pola istirahat tidur
klien, perubahan kognitif verbal dan perubahan nafsu makan pada klien.
Selanjutnya untuk mengatasi masalah
ini pada tanggal 24 November 2011, penulis membuat perencanaan dengan tujuan
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan nyeri dapat berkurang. Dengan
Kriteria hasil Skala nyeri turun dari 6 jadi 1.
Adapun perencanaan yang penulis buat
sebagai berikut Monitor KU & TTV klien, rasionalnya TTV merupakan tanda
akibat adanya nyeri. Kaji frekuensi dan tingkat nyeri, rasionalnya Mengukur
ambang nyeri. Anjurkan keluarga untuk mengajak klien bermain saat klien merasa
nyeri, rasionalnya Mengalihkan rasa nyeri saat klien merasakan nyeri. Kolaborasi
pemberian analgetik, rasionalnya Mengurangi rasa nyeri.
Tindakan yang akan dilakukan untuk
mengatasi diagnosa ini adalah : Mememonitor KU & TTV klien, respon klien P
: Nyeri karena gatal-gatal. Mengkaji frekuensi dan tingkat nyeri, Q : Nyeri
dirasakan seperti terbakar. R :Nyeri dirasakan pada perut, kedua tangan dan
kaki. S : Skala nyeri 6. T : Nyeri
dirasakan hilng timbul (tiba-tiba) dan saat berkeringat. Menganjurkan keluarga
untuk mengajak klien bermain saat klien merasa nyeri, saat nyeri terasa keluarga
mengajak klien bermain dan Klien terlihat asik bermain dengan keluarga.
Kolaborasi pemberian analgetik sesuai
advis
dokter.
Berdasarkan evaluasi yang
ditunjukkan klien, pada tanggal 26 november 2011, masalah keperawatan teratasi
sebagian dengan diperoleh data Klien mengatakan masih sedikit gatal. Klien
mengatakan perih. P : Nyeri karena gatal-gatal dan perih. Q : Nyeri seperti terbakar.
R : nyeri pada tangan, kaki, perut pada jaringan yang rusak. S : Skala nyeri 6.
T : Nyeri terasa saat berkeringat.
6. Kurang pengetahuan berhubungan
dengan kurangnya informasi tentang penyakit.
Kurang pengetahuan adalah suatu
keadaan dimana seorang individu atau kelompok mengalami defisiensi pengetahuan
kognitif atau keterampilan-keterampilan psikomotor berkenaan dengan kondisi
atau rencana pengobatan.
Batasan karakteristik mayor : Mengungkapkan
kurang pengetahuan atau keterampilan – keterampilan / permintaan
informasi, Mengekspresikan suatu ketidakakuratan persepsi status kesehatan.
Melakukan dengan tidak tepat perilaku kesehatan yang dianjurkan atau yang
diinginkan, memverbalisasikan adanya masalah, ketidakakuratan mengikuti instruksi,
perilaku tidak sesuai.
Batasan karakteristik mayor : Kurang
integrasi tentang rencana pengobatan ke dalam aktivitas sehari-hari,
Memperlihatkan atau mengekspresikan perubahan psikologis (misalnya ansietas, depresi) mengakibatkan
kesalahan informasi atau kurang informasi.
Data yang mendukung dalam diagnosa ini yaitu : Keluarga klien tinggal di
pedesaan, yang tingkat kebersihannya kurang. Keluarga klien adalah keluarga
yang hidup dengan kesederhanaan. Dan pendidikan keluarga klien rata-rata
lulusan SMP dan SD, jadi belum begitu faham mengenai kebersihan dan perawatan
kulit, terutama kebersihan anaknya yang mempunyai riwayat alergi kelainan kulit
(Dermatitis Atopik).
Selanjutnya untuk mengatasi masalah
ini pada tanggal 24 November 2011, penulis membuat perencanaan dengan tujuan
setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan Keluarga dan klien menunjukkan pengetahuan tentang proses
penyakit. Dengan kriteria hasil Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman
tentang penyakit, kondisi, prognosis dan program pengobatan, Pasien dan
keluarga mampu melaksanakan prosedur yang dijelaskan secara benar, Pasien dan
keluarga mampu menjelaskan kembali apa yang dijelaskan perawat/tim kesehatan
lainnya.
Adapun perencanaan yang penulis buat
sebagai berikut Kaji tingkat pendidikan keluarga klien.
Kaji tingkat pengetahuan keluarga tentang proses penyakit klien dengan rasional
untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan tentang penyakit. Jelaskan tentang
proses penyakit klien dengan melalui penkes dengan rasional pengetahuan tentang
penyakit klien bertambah. Berikan kesempatan pada keluarga bila ada yang belum
dimengertinya dengan rasional untuk menhindari adanya kesalah fahaman dalam
perawatan klien. Libatkan keluarga dalam pemberian tindakan pada klien dengan
rasional keluarga mengerti dan mampu merawat klien.
Penulis tidak melakukan
implementasi pada diagnosa ini, dengan alasan karena keluarga klien
kurang mendukung atau kurang kooperatif untuk di lakukan intervensi tersebut
dan waktu yang kurang mendukung untuk melakukan penkes.
Berdasarkan evaluasi yang
ditunjukkan klien, pada tanggal 26 november 2011, masalah
teratasi. Saat di tanya, keluarga mampu menjelaskan kembali cara-cara merawat
klien.
b.
Diagnosa
yang tidak muncul
1.
Gangguan pola tidur berhubungan
dengan pruritus, nyeri.
Gangguan
pola tidur adalah Keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami
suatu perubahan dalam kuantitas atau kualitas pola istirahatnya yang
menyebabkan rasa tidak nyaman atau menggangu gaya hidup yang diinginkan.
(Medical Surgical Nursing ).
Batasan
karakteristik mayor : kesukaran untuk tertidur atau tetap tidur.
Batasan
karakteristik mayor : agitasi, peerubahan suasana hati, tidur sejenak
sepangjang hari.
Diagnosa keperawatan yang terdapat pada teori dan tidak
muncul pada kasus adalah gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus,
nyeri. Karena pada saat dilakukan pengkajian penulis tidak menemukan data
adanya keluhan-keluhan atau tanda-tanda yang menunjukan gangguan pada pola tidur
klien. Sehingga diagnosa gangguan pola tidur tidak dimunculkan oleh penulis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar