|
BAB
II
KONSEP
DASAR
A. PENGERTIAN.
Dermatitis adalah peradangan kulit
( epidermis dan dermis ) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen atau
pengaruh faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi
polimorfik ( eritema, edema, papul, vesikel, skuama ) dan keluhan gatal (Djuanda 2007).
Dermatitis
atopik adalah keadaan peradangan kulit kronis dan resedif, disertai gatal yanmg
umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak, sering berhubungan
dengan peningkatan IgE dalam serum dan riwayat
atopi keluarga atau penderita (DA, rhinitis alergi, dan atau asma
bronchial) (Sularsito., 2005).
Dermatitis atopik adalah kelainan kulit yang sering
terjadi pada bayi dan anak, yang biasa ditandai oleh rasa gatal, penyakit
sering kambuh, dan distribusi lesi yang khas. Dermatitis atopik ini penyebabnya
adalah multifaktorial, termasuk di antaranya faktor genetik, emosi, trauma,
keringat, dan faktor imunologis (Mansjoer., 2000).
|
B. ANATOMI
DAN FISIOLOGI.
Didapatkan
dua bentuk dermatitis atopik, bentuk alergik yang merupakan bentuk utama
(70-80% pasien) terjadi akibat sensitisasi terhadap alergen lingkungan disertai
dengan peningkatan kadar IgE serum. Bentuk lain adalah intrinsik atau non
alergik, terdapat pada 20-30% pasien, dengan kadar IgE rendah dan tanpa
sensitisasi terhadap lingkungan. Dapat disimpulkan bahwa peningkatan kadar IgE
bukan merupakan prasyarat patogenesis dermatitis atopik. Terdapat pula konsep
murni (Pure Type), tanpa berkaitan dengan penyakit saluran nafas dan bentuk
campuran (Mixed Type) yang terkait dengan sensitisasi terhadap alergen hirup
atau alergen mkanan disertai dengan peningkatan kadar IgE (Soebaryo., 2009).
Terdapat
beberapa gambaran klinis dan stigmata yang terjadi pada dermatitis atopik,
yaitu :
a. White
dermatographism.
Goresan
pada penderita kulit dermatitis atopik akan menyebabkan kemerahan dalam waktu
10-15 detik dengan diikuti vasokonstriksi yang menyebabkan garis berwarna putih
dalam waktu 10-15 menit berikutnya.
b. Reaksi
vaskular paradoksal.
Merupakan adaptasi terhadap perubahan suhu pada penderita dermatiitis
atoik. Apabila ekstremitaspenderita dermatiti atopik mendapat pajanan hawa dingin
akan akan terjadi percepatan pendingan dan perlambatan pemanasan dibandingkan
dengan orang normal (Judarwanto., 2009).
Hal ini diduga karena ada pelebaran kapiler dan peningkatan permeabilitas
pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya edema dan warna pucat dijaringan
sekelilingnya. (Zulkarnain., 2009).
c. Lipatan
telapak tangan.
Pada
kondisi kronis terdapat penambahan mencolok lipatan pada telapak tangan
meskiput hal tersebut bukan merupakan tanda khas untuk dermatitis atopik.
(Judarwanto., 2009).
Pada umumya penderita dermatitis atopik
sejak lahir mempunyai parmal. yang lebih dalam dan menetal sepanjang hidup.
(Zulkarnain., 2009).
a. Garis
morgan atau dennie.
Kalainan
ini berupa cekungan yang menyolok dan simetris namun dapat ditemukan satu atau
dua cekungan dibawah kelopak mata bagian bawah. Keadaan ini pada saat lahir
atau sesudah itu dan bertahan bertahan sepanjang hidup, nampak seperti adema
dari kelopat mata bawah namun bukan merupakan atonogmomik dermatitis atopik. (Zulkarnain.,
2009).
b. Sindrom
buffed-nail.
Kuku
terlihat mengkilat karena selalu menggaruk akibat dari rasa gatal.
c. Allergic
shiner.
Sering
dijumpai pada penderita penyakit allergi karena gosokan dan garukan berulang
jaringan dibawah mata dengan akibat perangsangan melanosit dan peningkatan
timbulnya melanin.
d. Hiperpigmentasi.
Terdapat
daerah Hiperpigmentasi karena garukan terus menerus.
e. Kulit
kering.
Kulit
penderita dermatitis atopik umumnya kering, bersisik, pecah-pecah dan berpapul
folikular hiperkeratotik yang disebut peratotis pelaris. Jumlah kelenjar
sebasea berkurang sehingga terjadi pengurangan pembentukan sabun, sel
pengeluaran air dan xerosis. Terutama pada musim panas.
f. Delayed
dlanch.
Penyuntikan asetilkolin pada kulit
normal menghasilkan keluarnya keringat dan eritema. Pada penderita atopi akan
terjadi eritema ringan dengan Delayed
dlanch. Hal ini disebabkan oleh vasokonstistik atu peningkatan
permeabilitas kapiler.
g. Kekeringan
berlebihan.
Penderita
dermatitis atopik cenderung berkeringat banyak Sehingga premitus bertambah.
h. Gatal
dan garukan berlebihan.
Penyuntikan
pada pemacu rasa gatal (tripsin) pada orang normal akan menimbulkan gatal
selama 10-15 menit, sedangkan pada dermatitis atopik akan bertahan selama 45
menit.
i.
Variasi musim.
Mekanisme terjadinya ekseserbasi sesuai
dengan perubahan musim belum difahami secara menyeluruh. Beberapa penelitian
menunjukan bahwa kelembapan nispi tinggi musim baik pada kekerongan kulit
penderita dermatitis atopik. Pada daerah dengan kelembapan nispi tinggi musim
panas berpengaruh buruk, sedangkan lingkungan sejuk dan kering akan berpengaruh
baik pada kulit penderita dermatitis atopik. (Judarwanto., 2009).
j.
Hertoge sign.
Didevinisikan
sebagai penipisan atau hilangnya lateral alis mata. (Zulkarnain., 2009).
C. ETIOLOGI.
Penyebab
dermatitis atopik tidak diketahui dengan pasti,diduga disebabkan oleh berbagai
faktor yang saling berkaitan (multifaktorial).
Faktor
intrinsik berupa predisposisi genetik,kelainan fisiologi dan biokimia kulit,
disfungsi imunologis, interaksi psikomatik dan disregulasi/ketidakseimbangan
sistem saraf otonom, sedangkan faktor ekstrinsik meliputi bahan yang bersifat
iritan dan kontaktan, alergen hirup,makanan, mikroorganisme, perubahan
temperatur dan trauma (Fauzi., 2001).
Faktor
psikologis dan psikomatis dapat menjadi faktor pencetus (Mansjoer., 2001).
Faktor pencetus
lain diantaranya :
a. Makanan.
Berdasarkan
hasil (DBPCFC) double blind placibo
controlled food challenge, hampir 40% bayi dan anak dengan dermatitis
atopik sedang dan berat mempunyai riwayat alergi makanan. Bayi dan anak dengan
alergi makanan biasanya diser tai uji kulit (skin pick test) da kadar IgE spesifik positif berbagai macam
makanan. Walaupun demikian uji kulit positif terhadap suatu makanan tertentu,
tidak berarti bahwa penderita tersebut alegi pada makanan tersebut, oleh karena
itu masih diperlukan uji eliminasi dan provokasi terhadap makanan tersebut
untuk menentukan kepastinnya (Judarwanto W., 2009). Prevelensi reaksi alergi
makanan lebih banyak pada anak dengan dermatitis atopik berat. Makanan yang
sering menyebabkan alergi antara lain susu, telur, gandum, kacang-kacangan
kedelai dan makanan laut (Roesyanto., 2009).
b. Alergen
hirup.
Alergen
hirup sebagai penyebab Dermatitis Atopik dapat lewat kontak,yang dapat di
praktekan dengan uji tempel,positif pada 30-50% penderita dermatitik atopik, atau
lewat inhalasi. Reaksi positif dapat terlihat pada alergi tungau debu rumah
(TDR), bulu binatang rumah tangga, jamur atau ragweed di negara negara 4 musim
(Judarwanto., 2009).
c. Infeksi
kulit.
Mikroorganisme
telah diketahui sebagai salah satu faktor ekstrintik yang berperan sebagai
kontribusi sebagai pencetus kambuhnya dermatitis atopik. Mikroorganisme
utamanya adalah stahyllococcus aureus (SA).
Pada penderita dermatitis atopik didapatkan perbedaan yang nyata pada jumlah
koloni stahyllococcus aureus pada
kulit dengan lesi ataupun non lesi pada penderita dermatitis atopik, merupakan
salah satu faktor pencetus yang penting pada terjadinya eksaserbasi, dan
merupakan faktor yang dikatakan
mempengaruhi beratnya penyakit. Faktor lain dari mikroorganisme yang dapat
menimbulkan kekambuhn dermatitis atopik adalah adanya toksin yang dihasilkan
oleh stahyllococcus aureus. Enterotoksin
yang dihasilkan oleh stahyllococcus
aureus ini dapat menembus fungsi sawar kulit, sehingga dapat mencetuskan
terjadinya inflamasi. Enterotoksin tersebut bersifat sebagai superantigen, yang
secara kuat dapat menstimulasi aktifasi sel T dan makrofag yang selanjutnya
mengeluarkan histamin. Enterotoxin stahyllococcus
aureus menginduksi inflamasi pada dermatitis atopik dan memprovokasi
penngeluaran antibodi IgE spesifik terhadap enterotoksin stahyllococcus aureus, tetapi menurut penelitiann pada fauzi
nurul.,2009., tidak didapatkan kolerasi antara jumlah kolonisasi stahyllococcus aureus dan kadar IgE
spesifik enterotoksin stahyllococcus
aureus. stahyllococcus aureus.
D. PATOFISIOLOGI.
Berbagai faktor turut berperan dalam
patofisiologi dermatitis atopik, antara lain faktor genetik terkait dengan
kelainan intrinsik sawar kulit, kelainan imunologik, dan faktor lingkungan (Soebaryo.,2009).
a.
Genetik.
Genetik pengaruh gen maternal sangat
kuat. Ada peran kromosom 5q31-33,kromosom 3q21 serta kromosom 1q21 dan 17q25
juga melibatkan gen yang independen dari mekanisme alergi. Ada peningkatan
prevelensi HLA-A3 dan HLA-A9 pada umumnya berjalan bersama penyakit atopi
lainnya,seperti asma, rhinitis. reSiko eorang kembar monosigotik yang saudara
kembarnya menderita dermatitis atopik adalah 86% (Judarwanto., 2009).
Lebih dari kesempatan anak dari seorang
ibu yang menderita atopi keluarga akan mengalami dermatitis
atopik pada masa 3 bulan pertama kehidupan,bila salah satu orang tua menderita
atopi,lebih dari setengah jumblah anak akan mengalami gejala alergi smpai usia
2 tahun,dan meningkat sampai 79% bila kedua orang tua menderita atopi. Resiko
mewarasi dermatitis atopik lebih tinggi bila ibu menderita dermatitis atopik di
banding dengan ayah. Tetapi bila dermatitis atopik dialmi hingga berlanjut
hingga masa dewasa maka resiko untuk mewariskan kepada anaknya Sama saja yaitu
50%.
b.
Sawar kulit.
Hilangnya caremide dikulit,yang
berfungsi sebagai molekul utama pengikat air diruang ekstraseluler srttum
kornium dianggap sebagai penyebab kelainan fungsi sawar kulit. Variasi Ph kulit
dapat menyebabkan kelainan metabolisme lipid di kulit. Kelinan fungsi sawar
mengakibatkan peningkatan transepidermal water loss.kulit akan semakin kering
dan merupakan port d’entry untuk
terjadinya penetrasi elergen, iritan, bakteri, dan virus. Bakteri pada pasien
dermatitis atopik mensekresi ceramide sehingga menyebab kan kulit semakin
kering (Soebaryo.,2009).
Respon imun kulit sel-sel T baik
subset CD4+ maupun subset CD8+ yang diisolasi dari kulit (CLA+ CD45RO+ T cells)
maupun dari darah perifer, terbukti mengsekresi sejumlah besar IL-5 dan IL-15,
sehingga dengan kondisi ini lifepan dari eosinofil memanjang danterjadi induksi
pada produksi IgE, Lesi akut di dominasi oleh akspresi IL-5, GS-CSF, IL-12 dan
IFNg serta infiltrasi makrofag dan
aosinofil (Judarwanto., 2009).
Imunopatologi kulit pada dermatitis
atopik, sel T yang ilfiltrasi ke kulit adalah CD45RO+. Sel T ini menggunakan
CLA maupun reseptor lainnya untuk mengenali dan menyeberangi andotelium
pembuluh darah perifer pasien dermatitis atopic, sel T subset CD4+ maupun subset CD8+ dari sel T dengan petanda
CLA+CD45RO+ dalam status teraktivasi (SD25+ CD40L+ HLADR+).sel yang terktivasi
ini mengekspresikan Fan dan Fan ligand yang menjadi penyebab apoptosis. Sel-sel
itu sendiri tidak menunjukan apoptosis karena mereka diproteksi oleh sitokin
dan protein extracellular matrik (ECM). Sel-sel
T tersebut mengsekresi IFN g yang melakukan upregulation Fas pada
keratinocytes dan menjadikan peka terhadap proses apoptosis di kulit. Apoptosis
keratinosit diinduksi oleh Fas ligand yang diekspresi dipermukaan sel-sel T
atau yang berada di microenvironment (Judarwanto.,
2009).
c.
Lingkungan.
Sebagai tambahan selain allergen
hirup, allergen makanan, eksaserbasi pada dermatitis atopic dapat dipicu
beberapa macam infeksi, antara lain jamur, bakteri dan virus, juga panjana
tunggau debu rumah dan binatang peliharaan. Hal tersebut mendukung teori Hygiena Hypotesis (Roesmanto., 2009).
Hygiena
Hypotesis menyatakan bahwa berkurangnya stimuasi sister imun oleh pajanan
antigen microba dinegara barat mengakibatkan meningkatnya kerentanan terhadap
penyakit atopic (Sugito.,2009).
Sampai
saat ini etiologi maupun mekanisme yang pasti dermatitis atopic belum semua
diketahui, demikian pula prumitus pada dermatitis atopic. Rasa gatal dan rasa
nyeri sama-sama memiliki reseptor di taut dermoepidermal, yang disalurkan lewat
saraf C tidak bermielin kesaraf spinal sensorik yang selanjutnya di salurkan ke
thalamus kontralateral dan korteks untuk diartikan. Rangsangan yang ringan,
seperfisial dengan intensitas rendah menyebabkan rasa gatal, sedangkan yang dalam
dan berintensitas tinggi menyebabkan nyeri. Sebagai pathogenesis dermatitis
atopic dapat dijelaskan secara imunologik dan nonimunologik (Judarwanto.,
2009).
d.
Imunopatogenesis
dermatitis atopic.
Histamine dianggap sebagai zat
penting yang memberi reaksi dan menyebabkan pruritus. Histamin menghambat
hemotaksis dan menekan produksi sel T. sel mast meningkat lesi pada dermatitis
atopic kronis. Sel ini menmpunyai kemanpuan melepaskan histamin. Histatamin
sender dapat menyebabkan lesi ekzematosa. Kemungkinan zat tersebut menyebabkan
pruritus dan eritema,mungkin akibat garukan karena gatal mengakibatkan lesi
ekzamatosa, pada pasien dermatitis atopik kapasitas untuk menghasilkan IgE
secara berlebihan diturunkan secara
genetik. Demikian pula defisiensi sel T penekan (suppressor). Difisiensi sel ini menyebabkan produksi berlebih IgE
(Mansdjoer., 2000).
Respon imun sistemik terdapat IFN-g
yang menurunkan. Interleukin spesifik elergen yang diproduk sel T pada darah
perifer (interleukin IL-4, IL-5 dan IL-13) meningkat. Juga terjadi eosinophilia
dan peningkatan IgE (Judarwanto., 2009).
1.
Reaksi imunologis
dermatitis atopik.
Sekitar
70% anak dengan dermatitis atopik mempunyai riwayat atopi dalam keluarga
seperti asma bronkial, rinitis alergi, atau dermatitis atopik. Sebagian besar
anak dengan dermatitis atopik (sekitar 80%), terdapat peningkatan kadar IgE
total dan eosinofil di dalam darah. Anak dengan dermatitis atopik moderat dan
berat akan berlanjutkan dengan asma dan atau rinitis alergika dikemudian hari (allergic march), dan semuanya
memberikan dugaan bahwa besar dermatitis atopik adalah suatu penyakit atopi.
2.
Ekspresi sitokin.
Keseimbangan
sitokin yang berasaldari Th1 dan Th2 sangat berberan pada reaksi iflamasi
penderita dermatitis atopik. Pada lesi yang akut biasanya ditandai dengan kadar II-4, II-5 dan II-13 yang tinggi,
sedangkan dermatitis yang kroniS disertai kadar II-4 dan II-13 yang lebih
rendah, tetapi II-5, GM-CSF (granulocyte-microphage colony-stimulating
factor), II-12 dan INFg lebih tinggi dibandingkan pada dermatitis atopik
akut.
Anak
dengan bawaan atopi lebih mudah bereaksi terhadap antigen lingkkungan (makanan
dan inhalan), dan menimbulkan sensitisasi terhadap reaksi hipersentivitas tite
1, imunitas seluler dan respons terhadap hipersensitivitas tipe lambat akan
menurun pada penderita dengan dermatitis
atopik, akibat menurunnya jumlah limfosit T sitolitik (CD8+), sehingga rasio
limfosit T sitolitik (CD8+) terhadap limfosit T helper (CD8+) menurun dengan
akibat kepekaan terhadap infeksi virus, bakteri dan jamur meningkat.
Diantara
mediator yang dilepaskan oleh sel mast, yang berparan pada pruritus adalah
vasokvif amin, seperti histamin, kinin, bradikinin, leukotrien,
prostaktaklandin dan sebagai, sehingga dapat dipahami bahwa dalam
penatalaksanaan dermatitis atopik, walaupun antihistamin sering digunakan,
namunhasilnya tidak terlalu menggembirakan dan sampai saat ini masih banyak
silang pendapat para ahli mengenai antihistamin pada dermatitis atopik
(Soebaryo.,2009).
Trauma
mekanik (garukan) akan melepaskan TNF-a dan sitokinin pro inflammatory lainnya
diepidermi, yang selannya akan meningkatkan kronisitas dermatitis atopik dan
bertambah beratnya eskema (Judarwanto., 2009).
e.
Antigen presenting
cells.
Kulit penderita dermatitis atopik mengandung
sel langerhans (LC) yang mempunyai afinitas tinggi untuk mengikat antigen asin
(Ag) dan IgE lewat reseptor FceRI permukaannya, dan perberan untuk
mempresepsikan alergen ke limfosit Th2, mengaktifkan Sel ,el memori Th2 di
kulit dan yang juga berperan mengaktifkan Th0 menjadi Th2 di sirkulasi
(Judarwanto., 2009).
f.
Faktor non imunologis.
Faktor non imunologis yang menyebabkan rasa
gatal pada dermatitis atopik antara lain adanya faktor genetik, yaitu kulit
dermatitis atopik kering (xerosis). Kulit yang kering akan menyebabkan nilai
ambang rasa gatal menurun, Sehingga dengan rangsangan yang ringan seperti
iritasi wol, rangsangan mekanik, dan termal akan menyebabkan rasa gatal
(Judarwanto., 2009).
g.
Autoalergen.
Sebagian besar serum pasien dermatitis topik
mengandung antibody IgE terhadap protein
manusia. Auto alergi tersebut merupakan intraseluler, yang dapat di keluarkan
karena adanya kerusaqkan kreatinosit akibat garukan dan dapat memicu pespon IgE
dan sel T. pada dermatitis atopik berat, inflamasi tersebut dapat dipertahankan
oleh adanya antigen endogen manusia sehingga dermatitis atopik dapat
digolongkan sebagai penyakit terkait dengan alerga dan automunitas (Soebaryo.,2009).
E. MANIFESTASI
KLINIS.
Manifetasi
klinis dermatitis atopik berbeda pada setiap tahapan atau fase perkembangan
kehidupan, mulai dari saat bayi sampai dewasa. Pada setiap anak didapat
keparahan yang berbeda, tapi secara umum mereka mengalami pola distribusi lesi
yang serupa (Zulkarnain., 2009).
Kulit
penderitan dermatitis atopik umumnya kering, pucat atau keruh, kadar lipid
diepidermis berkurang dan kehilangan air lewat epidermis meningkat. Penderta
dermatitis atopik cenderung tipe astenik, dengan intelegensia diatas rata-rata
dan merasa cemas, egois, frustasi, agresif atau merasa tertekan (Sularsito 2005).
Subyektis selalu terdapat pruritus, terdiri dari 3
bentuk yaitu:
1. Bentuk infantil ( 0 - 2 tahun).
Lesi awal
pada dermatitis atopik muncul pada bulan pertama kelahiran, biasanya bersifat
akut, sup akut, rekuren, simetris kedua pipi (Zulkarnain I., 2009). Karena
bentuknya di daerah pipi yang berkontak dengan payudara, sering diSebut eskema
susu. Terdapat eritem berbatas tegas, dapat disertai papul-papul dan
vesikel-vesikel miliar, yang menjadi erosis, eksudatif, derkrusta. Tempat
predileksi kedua pipi, ekstremitas bagian fleksor, dan ekstensor (Mansjoer.,
2001).
Ras gatal
sangat mengganggu, Sehingga anak gelisah, susah tidur, dan sering menangis.
Pada umumnya lesi sermatitis atopik infentil eksudatif, banyak eksudat, erosi,
krusta dan dapat mengalami infeksi. Lesi dapat meluas generalisata bahkan
maupun jarang, dapat terjadi eritroderma. Sekitar usia 18 bulan mulai tampak
likenifikasi (Sularsito., 2005)
2. Bentuk anak ( 2 -12 tahun).
Awitan lesi
mancul sebelum umur 5 tahun. Sebagian merupakan kelanjutan fase bayi. Pada
kondisi kronis tampak lesi hiperkeratosis, hiperpigmentasi, likefinikasi,.
Akibat adanya gatal dan garukan akan tampak erosi, eksoriasi linear yang
disebut starch marks . Tempat
predilaksi tengkuk, flesor tubital, fleksor poplitear sangat jarang di wajah
(Mansjoer A.,dkk., 2001). Lesi dermatitis atopik pada anak bisa terjadi di paha
dan bokong (Zulkarnain ., 2009).
Eskim pada
kelompok ini dapat terjadi pada daerah.ekstensor (luar) daerah persendian
(Sendi pergelangan, siku, dan lutut), pada daerah genetal juga dapat terjadi.(Simpson.,
2005)
3. Bentuk dewasa ( 12 tahun <).
Bentuk lesi
padafase dewasa hampir serupa dengan lesi kulit fase akhir anak-anak
(Zulkarnain., 2009). Lesi selalu kering dan dapat di sertai likenifikasi dan
hiperpigmentasi. Tempak predileksi tengkuk serta daerah freksor kubital dan
freksor popliteal.
Manifestasi lain
berupa kulit kering dan sukr ber keringat. Berbagai kelainan yang dapat
menyertainya ialah xerosis kutis, iktoSiS, hiperlinearis palmaris et plantaris,
pomfontoliks, ptiriasis alba, keratosis kelaris (berupa papul-papul miliar danditengahnya terdapat lekukan),dll
(Mansjoer., 2001).
Pada orang
dewasa sering mengeluh bahwa penyakitnya kambuh bila mengalami stress, mungkin
karena stress menurunkan rangsang ambang gatal. dermatitis atopik remaja
cenderung berlangsung lama kemudian menurun dan membaik (sembuh) setelah uSia
30 tahun, jarang sampi usia pertengahan, hanya sebagian kecil berlangsung
sampai tua (Sularsito., 2005).
F. TUMBUH
KEMBANG.
Pertumbuhan adalah
bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta jaringan interseluler, berarti
bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh sebagian atau keseluruhan,
sehingga dapat diukur dengan satuan panjang dan berat (Depkes RI, 2005).
Perkembangan adalah
bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih komplek dalam kemampuan gerak
kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian (Depkes
RI, 2005).
Anak
Usia 6-12 tahun adalah masa usia sekolah tingkat SD bagi anak yang normal.
Perkembangan anak masih sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga. Sebagai
orang tua harus mengetahui pertumbuhan dan perkembangan anaknya terutama pada
usia ini karena pertumbuhan anak-anak sangat pesat yang harus diimbangi dengan
pemberian nutrisi dan gizi yang seimbang.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
tumbuh kembang anak :
1.
Faktor genetik
a.
Faktor keturunan — masa konsepsi
b.
Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan
c.
Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis
kelamin, ras, rambut, warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa
keunikan psikologis seperti temperamen
d.
Potensi genetik yang bermutu hendaknya dapat berinteraksi
dengan lingkungan secara positif sehingga diperoleh hasil akhir yang optimal.
2.
Faktor eksternal / lingkungan.
Mempengaruhi
individu setiap hari mulai konsepsi sampai akhir hayatnya, dan sangat
menentukan tercapai atau tidaknya potensi bawaan. Faktor eksternal yang cukup
baik akan memungkinkan tercapainya potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik
akan menghambatnya
a.
Keluarga
b.
Teman sebaya
c.
Pengalaman hidup
d.
Kesehatan
e.
Lingkungan tempat tinggal
3.
Pertumbuhan dan perkembangan anak
usia 6-7 tahun :
a.
Membaca seperti mesin.
b.
Mengulangi tiga angka mengurut ke belakang.
c.
Membaca waktu untuk seperempat jam.
d.
Anak wanita bermain dengan wanita.
e.
Anak laki-laki bermain dengan laki-laki.
f.
Cemas terhadap kegagalan.
g.
Kadang malu atau sedih.
h.
Peningkatan minat pada bidang spiritual.
4.
Fisik dan motorik.
BB
16-23,6 kg, TB 106,6-123,5 cm, pemunculan gigi insisor mandibula tengah,
kehilangan gigi pertama, sering kembali menggigit jari, lebih menyadari tangan
sebagai alat, suka menggambar, melukis dan mewarnai.
1.
Mental.
Mengembangkan
konsep angka, mengetahui pagi atau siang, mengetahui bagaimana yang cantik,
jelek dr wajah, mematuhi 3 perintah sekaligus, mengetahui tangan kanan dan
kiri, mendefinisikan objek umum spt garpu, kursi.
2.
Adaptif.
Dimeja,
menggunakan pisau untuk mengoleskan mentega, pada saat bermain, memotong,
melipat, menjahit dengan kasar bila diberi jarum, mandi tanpa pengawasan, tidur
sendiri, membaca dari ingatan, dan menikmati permainan mengeja.
3.
Personal-sosial.
Dapat
berbagi dan bekerjasama dengan lebih baik, mempunyai cara sendiri untuk
melakukan sesuatu, sering cemburu terhadap adik, meningkatkan sosialisasi, dan
akan curang untuk menang.
- Stimulasi motorik kasar yang bisa dilakukan.
a.
Bermain kasti, basket, dan bola
kaki.
b.
Berenang.
c.
Lompat jauh.
d.
Kegiatan outbound.
e.
Lari maraton.
- Stimulasi motorik halus.
a.
Menggambar, melukis dengan berbagai media.
b.
Membuat kerajinan dari tanah liat.
c.
Membuat seni kerajinan tangan, misalnya membuat boneka dari
kain perca.
d.
Bermain alat musik seperti gitar, biola, piano dan
sebagainya.
- Stimulasi kognitif.
Sebelum
menstimulasi kognisi anak, orang tua harus mengetahui terlebih dulu
perkembangan kognitifnya sesuai usia. Misalnya, untuk anak balita perkembangan
kognitifnya berkaitan dengan perkembangan berbagai konsep dasar seperti
mengenal bau, warna, huruf, angka, serta pengetahuan umum yang akrab dengan
kehidupan sehari-harinya. Disamping itu perkembangan kognitif berkaitan erat
dengan perkembangan bahasa.
Aneka
kegiatan yang bisa dilakukan orang tua guna menstimulasi kognisi anak adalah:
a.
Mengadakan acara mendongeng.
b.
Membaca buku cerita, baik dilakukan oleh orang tua atau si
anak sendiri.
c.
Menceritakan kembali suatu kisah dari buku cerita yang sudah
dia baca.
d.
Sharing mengenai pengalaman sehari-hari yang bisa
dilakukan secara verbal, gambar atau tulisan.
e.
Berdiskusi tentang suatu tema.
Kegiatan-kegiatan
tersebut
sangat baik jika divariasikan dengan berbagai kegiatan, seperti membuat
kerajinan tangan atau games menarik.
Sedangkan
untuk anak 6-12 tahun, perkembangan kognitifnya sangat berkaitan dengan
kemampuan akademis yang dipelajari di sekolah. Akan tetapi kemampuan kognitif
bisa menjadi lebih optimal apabila otak kanan anak mendapat stimulasi. Anak
yang memiliki fungsi otak seimbang akan lebih responsif, kreatif, dan
fleksibel.
Kegiatan yang bisa dilakukan oleh
anak 6-12 tahun adalah:
Ketika
mempelajari berbagai kemampuan akademis, guru dan orang tua hendaknya
memperhatikan kondisi anak. Contohnya, saat anak sudah terlihat bosan
seharusnya secara otomatis materi yang disampaikan pada anak dibumbui atau
diselingi dengan permainan atau hal jenaka yang bisa membuat anak tertantang
dan gembira. Ingat, selingan seperti ini sebaiknya tetap pada konteks
pembicaraan atau pembahasan.
Stimulasi
otak kanan untuk menstimulasi kemampuan kognitif dapat dilakukan melalui
kegiatan music & movement (gerak dan lagu) atau dengan memainkan
alat musik tertentu. Bisa juga dengan melakukan kegiatan drama.
- Stimulasi afeksi.
Stimulasi
afeksi dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan interpersonal maupun
intrapersonal anak balita maupun 6-12 tahun. Manfaat utamanya adalah
mengembangkan rasa percaya diri, memupuk kemandirian, mengetahui dan menjalani
aturan, memahami orang lain, dan mau berbagi.
Cara memberikan stimulasi bisa
dengan cara sebagai berikut:
a. Biarkan anak melakukan sendiri apa
yang bisa ia lakukan.
b. Buatlah kesepakatan tentang berbagai
hal yang baik/boleh dan tidak, serta konsekuensinya. Tentu dengan bahasa yang
bisa dipahami anak.
c. Berikan penghargaan untuk hal-hal
yang dapat dilakukanya dengan baik atau lebih baik dari sebelumnya. Bisa juga
ketika anak dapat mengikuti aturan (terutama pada awal mula diterapkan suatu
aturan).
d. Berikan konsekuensi negatif
atau punishment terhadap tingkah laku anak yang kurang baik atau
tidak sesuai dengan aturan. Untuk hal ini perlu mempertimbangkan usia anak.
e. Berikan perhatian untuk berbagai
reaksi emosi anak. Contoh, saat dia sedih, gembira, marah, berikanlah respons
yang sesuai dengan kebutuhannya kala itu.
f. Anak difasilitasi untuk bermain
peran.
g. Biasakan anak untuk mampu
mengungkapkan perasaanya, baik secara verbal, tulisan, ataupun gambar.
h. Biasakan mau berbagi dalam setiap
kesempatan.
i.
Khusus untuk anak 6-12 tahun, mulai perkenalkan dengan
berbagai permainan dalam rangka mengenalkan aturan main, sportivitas, dan
kompetisi.
- Stimulasi Spiritual.
Sifat
spiritual berkaitan erat dengan kesadaran adanya Sang Pencipta. Di sinilah anak
belajar tentang kewajiban tertentu sebagai hamba Tuhan sesuai ajaran agama masing-masing.
Selain itu kecerdasan spiritual juga berkaitan dengan pemahaman bahwa ia
menjadi bagian dari alam semesta. Di sini anak memiliki peran tertentu supaya
bisa hidup harmonis dengan seluruh makhluk Tuhan. Hal-hal yang dapat dilakukan
untuk menumbuh kembangkan kecerdasan spritual anak balita dan usia 6-12 tahun
adalah sebagai berikut:
a. Lakukan diskusi bahwa semua benda di
sekitarnya ada yang menciptakan. Contoh, “Siapa yang membuat meja ini?” anak
menjawab, “Tukang kayu.” Lalu kita berikan lagi pemahaman padanya “Apakah sama
meja ini dengan tukang kayu yang membuatnya?”
b. Mengaitkan materi-materi pelajaran
atau hal-hal di sekitarnya dengan kebesaran Tuhan, terlebih pada pelajaran ilmu
pasti.
c. Memutarkan video tentang berbagai
hal yang menakjubkan di alam dengan kebesaran Sang Pencipta.
d. Menceritakan kisah manusia-manusia
pilihan Tuhan.
e. Berdiskusi tentang berbagai hal dan
apa yang dapat anak lakukan sebagai manusia yang memiliki kelebihan dibanding
makhluk lain di muka bumi.
f. Meminta anak untuk membuat karangan
tentang berbagai pengalamannya ketika sedang mengalami kesulitan dan apa yang
dia lakukan. Ketika menemukan jalan keluar dari kesulitan tersebut, kaitkan
dengan betapa Tuhan itu sangat pengasih dan pemurah.
g. Memberikan pendidikan agama
sekaligus membiasakannya menjalankan ibadah yang dianjurkan dan diwajibkan.
Namun
tak hanya itu yang bisa menjamin anak menjadi cerdas. Lingkungan di mana anak
berada sangat memegang peranan penting untuk membentuknya menjadi anak yang
bahagia dan sehat.
Jika
bicara ideal, beginilah seharusnya lingkungan anak balita dan anak usia 6-12
tahun:
a. Dilengkapi dengan fasilitas yang
mendukung, di antaranya arena bermain lengkap dengan prasarananya.
b. Lingkungan harus ramah anak,
sekaligus memberi jaminan atas kesehatan, keamanan, kenyamanan, dan keleluasaan
bergerak.
c. Jika hal tersebut tidak memungkinkan
untuk diwujudkan, cukuplah membuat lingkungan yang bisa menerima dan memberi
toleransi pada anak dalam berkegiatan. Temanilah selalu anak saat berekplorasi.
Biarkan dia bebas memilih apa yang akan dikerjakan sepanjang tetap dalam
koridor keamanan, kesehatan, dan kebaikan.
d. Jawablah sebisa mungkin setiap
pertanyaan anak. Jika tidak bisa, ajak anak bersama-sama mencari tahu jawaban
dari sumber yang bisa dipercaya, semisal mencarinya dalam kamus atau bertanya
pada pakarnya.
G. DAMPAK
HOSPITALISASI.
Hospitalisasi
adalah suatu proses yang karena suatu alas an yang berencana atau darurat
mengharuskan anak untuk tinggal di RS, menjalani terapi dan perawatan sampai
pemulangannya kembali ke rumah.
Perasaan
yang sering muncul pada anak : Cemas, marah, sedih, takut dan rasa bersalah (Wong,
2000). Timbul karena :
a. Menghadapi sesuatu yang baru dan
belum pernah dialaminya.
b. Rasa tidak aman dan nyaman.
c. Perasaan kehilangan sesuatu yang
biasa dialaminya dan sesuatu yang dirasakan menyakitkan.
Masa sekolah :
a. Timbul kecemasan : berpisah dengan lingkungan
yang dicintainya.
b. Kehilangan kontrol karena adanya
pembatasan aktivitas.
c. Kehilangan kontrol : perubahan peran
dalam keluarga.
d. Anak kehilangan kelompok sosialnya
karena ia biasa melakukan kegiatan bermain atau pergaulan sosial, perasaan
takut mati dan adanya kelemahan fisik.
e. Reaksi terhadap perlukaan atau rasa
nyeri : ekspresi baik secara verbal maupun nonverbal : anak sudah mampu
mengkomunikasikannya.
f. Sudah mampu mengontrol perilaku jika
merasa nyeri : menggigit bibir/menggigit dan memegang sesuatu dengan erat. http://widyainternet.blogspot.com/2010/01/dampak-hospitalisasi-pada-anak.html
H. PENATALAKSANAAN.
Pengobatan
pada bayi dan anak dengan dermatitis atopik harus secara individual dan
didasarkan kepada keparahan penyakit. Sebaiknya penatalaksanaan ditekankan pada
kontrol jangka waktu lama (Long-term
control) bukan hanya untuk mengatasi kekambuhan. Protab pelayanan profesi
untuk pengobatan dermatitis atopik bertujuan untuk manghilangkan ujud kelainan
kulit dan rasa gatal, mengobati lesi kulit, mencari faktor pencetus dan
mengirangi kekambuhan. Secara konvensional pengobatan dermatitis atopik kronik
pada prinsipnya adalah :
·
Menghindari bahan
iritan.
·
Mengeliminasi allergen
yang telah terbukti.
·
Manghilangkan pengeringan
kulit (hidrasi).
·
Pemberian pelembab
kulit (moisturizing).
·
Kortikostreroid
topikal.
·
Pemberian anti biotik.
·
Pemberian antihistamin.
·
Mengurangi stress.
·
Dan memberikan edukasi
pada penderita maupun keluarga. (Kariossentoso .,2006)
a. Edukasi.
Menjelaskan bahwa dermatitis atopik
merupakan penyakit yang penyebabnya multifaktorial, cara perawatan kulit yang
benar untuk mencegah bertambahnya kerusakan
sawar kulit dan perbaikan sawar kulit serta penting juga untuk mencari
faktor pencetus serta menghindari atau menghilangkannya (Sugito., 2009).
a. 1. Mandi dan emolien.
Jangan
mandi dengan air terlalu panas, karena dapat merasa gatal, jangan memakai
handuk dengan menggosok pada kulit melainkan menepuk-nepuknya. Hindari sabun
yang mengandung antiseptik, karena dapat mempermudah resistensi, kecuali bila
ada infeksi sekunder.
a. 2. Mengatasi
gatal.
Gatal
dapat diatasi dengan pemberian amolien, kompres hangat,anti inflamasi topikal
(Kortikosteroid, inhibitor kalsineurine), antihistamin oral (Sugito., 2009).
Kompres
hangat bermanfaat dalam menangani eskema yang berat, sedangkan pembalut yang
mengandung obat misalnya pasta zinc dn iktamol zinc oksida dan ter batubara,
yang dipakai di atas steroid topical bermanfaat untuk mengobati eskema pada
esktremitas (Graham., 2005).
Kortikosteroid
topikal dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan efek samping lokal (atrofi,
striae, hipertrikosis, hipopigmentasi, teleangiektasis dll). Maupun sistemik
(supresi aksi hipothalamus-pituitasi-adrenal, gangguan pertumbuhan sindro
chusing).
Beberapa
faktor perlu di perhatikan yakni venikulum, potensi kortikosterid, usia pasien,
letak lesi. Derajan dan luas lesi serta cara pemakaian.
Prinsip
penggunaan :
1. Gunakan
potensi terendah yang dapat mengatasi radang, dapat dinaikan bila perlu.
Hindari pemakaian dalam jangka waktu lama.
2. Hindari
potensi kuat untuk daerah kulit dengan permeabilitas tinggi (muka, intergonisa,
bayi).
3. Potensi
kuat digunakan bila gatal sangat kuat dan atau peradangan/likenifikasi berat).
4. Gunakan
potensi kuat hanya dalam jangka waktu pendek (≤ 2 minggu untuk potensi kelas
1). Bila lesi awal telah teratasi ganti dengan potensi yang lebih rendah/
dengan intiinflamasi nonsteroid untuk terapi pemeliharan.
5. (Inhibitor
kalsineurine topikal) obat ini dapat
mengatasi kekurangan/ kerugian menggunakan kortikosteroid topikal, bekerja
dengan menghambat transkripsi sistem inflamasi dalam sel T yang teraktifasi dan
sel radang lainnya sehingga mencegah pelepasan sitokin oleh sel T helper, serta
menghambat poliferesi sel t. terdapat dua macam yaitu salap takrolimus 0.03%
(untuk usia 2-12 tahun) dan 0.1% (untuk usia 3 tahun keatas).
b. Untuk
dermatitis yang refrakter.
1. Kortukosteroid
sistemik.
Prednisolon
ledih dianjurkan karena lebih cepat di eskresi oleh tubuh.
2. Fototerapi.
Kombinasi
UVA dan UVB atau bersama psoralen (fotokemoterapi) dapat memperbaiki dermatitis
atopik dan menyebabkan remisi panjang, namun beresiko menimbulkan penuaan dini
dan keganasan kulit dalam jangka panjang.
3. Obat
lainnya.
Siklosporin,
azatioprin, mofetil mikrofetal, metroteksrat, interveron gamma, lain-lain
(antagonis leukotrien, timopentin, imunoterapi allergen dan probiotik) (Sugito.,
2009).
c. Pengobatan
sistemik.
1. Kortikosteroid.
Hanya
digunakan untuk mengobati eksaserbasi akut, dalam jangka pendek dan disis
rendah, diberikan berselang-seling atau di turunkan perlahan (tapering), segera ganti dengan
kortikostiroid lokal.
2. Antihistamin.
Digunakan
untuk membantu mengurangi rasa gatal yang hebat, terutama malam hari. Untuk itu
antihistamin yang dipakai mempumyai efek sedatf misalnya hidroksisin atau
hifenhidramin.
3. Anti
infeksi.
Untuk
mengobati koloni S.aureus yang belum resisten dapat diberkan eritromisin,
esitromisin, atau kalitromisin, Sedangkan untuk yang sudah resisten diberikan dikloksasilin
atau genersi pertamasefalosporin.
4. Intervaron.
IFN-y
diketahui menekan respo IgE dan
menurunkan fungsi dan proliferasi sel Th2.pengobatan dengan IFN-y rekombinan
menghasilkan perbaikan klinis, karena dapat menurunkan jumlah eosinofil total
dalam sirkulasi (Sularsito 2005).
d. Menghindri
faktor pencetus.
Bila
eksudasi berat atau stadium akut beri kompres terbuka. Bila dingin dapat
diberikan krim kortikosterod ringan sedang. Pada lesi kronis dalam likenifikasi
dapat diberikan selep kostikosteroid kuat (Mansjoer., 2001).
Penderita
dermatitis atopik yang disertai infeksi harus diberkan antibiotika terhadap
kuman stapilokokus dan steroid topikal (Fauzi., 2009).
e. Probiotik
dan dermatitis atopik.
Untuk menggunakan antibiotik beberapa
randomized controlled trials dengan jumlah sampel kecil menunjukan penurunan
derajad keparahan dermatitis atopik dan mencegah dermatitis atopik sampai
derajad tertentu dkk. Menurut penelitian isaular CFU laktobasillus GG yang
diberikan selama 2-4 minggu sebelum lahir sampai 6 bulan sesudah lahir
menurunkan kejadian dermatitis atopik sampai 50% pada bayi- bayi dengan resiko
tinggi dermatitis atopik (Sugito., 2009).
Alergi merupakan bentuk “Th2-disease”
yang upaya perbaikannya memerlukan pengembalian penderita pada kondisi “Th1-Th2”
yang seimbang perkembangan ilmu dan tehnologi memungkinkan perubahan paradigma
pencegahan alergi dari paradigma menghindari faktor resiko menjadi paradigma
induksi aktif paradigma indusi aktif toleransi imunologik. Kosep probiotik pada
pencegahan alergi didasari pada induksi aktif respon imunologik menunjukan
keseimbangan “Th1-Th2” pada uji klinik probiotik dibuktikan dapat menurunkan
gejala allergi yang berhubungan denga dermatitis.
Atopik dan allegi makanan. Kelemahan uji
klinik adalah ketidak mampuannya dalam menghasilkan informasi mengenai
mekanisme dan hubungan sebab akibat. Esktropolasi dan sintesis atas fakta-fakta
ilmiah yanh telah dihaSilkan oleh uji klinik dan penelitian mekanisme probiotik
pada hewan coba menunjukan bahwa probiotik dapat menunjuakan reaksi alergi
melalui aktivasi TLR2 dan TLR4. Penelitian probiotik pada ibu hamil menunjukan
bahwa efek samping dini probiotik pada sistem probiotik imun ibu bukanlah pada
supresi Thl tetapi pada aktivasi pada tregulator yang berfungsi menjaga homeostatis
Th1-Th2, sehinnga kelangsungan kehamilan tidak terganggu. (Endaryanto., 2010).
I. KOMPLIKASI.
Komplikasi yang sering terjadi pada anak dengan dermatitis
atopi yaitu alergi saluran napas dan infeksi kulit oleh kuman S. aureus dan H.
simplex.
http://kamus-kesehatan.blogspot.com/2009/08/dermatitis-atopik.html.
Dapat terjadi komplikasi yaitu
infeksi bakteri. Gejalanya berupa bintik-bintik yang mengeluarkan nanah.
Pembengkakan kelenjar getah bening sehingga penderita mengalami demam dan lesu.
http://www.kalbe.co.id/dod_detail.php?detail=50.
J. FOKUS
PENGKAJIAN.
1.
Pemeriksaan.
a. Anamnesis
Anamnesis merupakan tahap awal dalam
pemeriksaan untuk mengetahui riwayat penyakit dan menegakkan diagnosis.
Anamnesis harus dilakukan dengan teliti, teratur dan lengkap karena sebagian
besar data yang diperlukan dari anamnesis untuk menegakkan diagnosis.
Sistematika yang lazim dalam anamnesis, yaitu identitas, riwayat penyakit, dan
riwayat perjalanan penyakit.
1. Identitas
: nama, umur, jenis kelamin, alamat, agama, suku bangsa, pendidikan, pekerjaan.
2.
Riwayat penyakit
Keluhan utama yang menyebabkan pasien dibawa berobat. Keluhan utama
tidak harus sejalan dengan diagnosis utama.
3.
Riwayat perjalanan penyakit
·
Cerita kronologis, rinci dan
jelas tentang keadaan pasien sebelum ada keluhan sampai dibawa berobat.
·
Pengobatan sebelumnya dan
hasilnya
·
Tindakan sebelumnya
·
Perkembangan penyakit – gejala
sisa atau cacat
·
Riwayat penyakit lain yang
pernah diderita sebelumnya.
4.
Pada anamnesis pasien didapat
hasil sebagai berikut : seorang anak laki-laki usia 1 tahun, datang dengan
keluhan berupa bercak, beruntus kemerahan yang terasa gatal pada badan, kedua tungkai
atas dan bawah sejak 2 minggu yang lalu. Kelainan kulit pertama kali timbul
saat berusia 6 bulan, pasien pernah diobati kedokter penyakit kulit dan kelamin
diberi salep kortikosteroid terdapat perbaikan. Kedua orang tua pasien memiliki
riwayat asma.
b.
Fisik
Pemeriksaan fisik dermatitis atopik dilakukan dalam bentuk
pemeriksaan kulit, yang dibagi menjadi dua berdasarkan :
·
Lokalisasi
·
Bayi : kedua pipi, kepala,
badan, lipat siku, lipat lutut.
·
Anak : tengkuk, lipat siku,
lipat lutut.
·
Dewasa : tengkuk, lipat lutut,
lipat siku, punggung kaki.
·
Efloresensi/ sifat-sifatnya
·
Bayi : eritema berbatas tegas,
papula/ vesikel miliar disertai erosi dan eksudasi serta krusta.
·
Anak : papula-papula miliar,
likenifikasi, tidak eksudatif.
·
Dewasa : biasanya
hiperpigmentasi, kering dan likenifikasi.
·
Pada pemeriksaan fisik pasien
didapat hasil sebagai berikut : terdapat bercak dan beruntus kemerahan yang
terasa gatal pada badan, kedua tungkai atas dan bawah. (Siregar.; 2004)
c.
Penunjang.
Pemeriksaan
laboratorium yang dapat dilakukan :
1.
IgE serum.
IgE serum dapat diperiksa dengan metode ELISA. Ditemukan 80% pada
penderita dermatitis atopik menunjukkan peningkatan kadar IgE dalam serum
terutama bila disertai gejala atopi ( alergi )
2.
Eosinofil.
Kadar
serum dapat ditemukan dalam serum penderita dermatitis atopik. Berbagai
mediatore berperan sebagai kemoatraktan terhadap eosinofil untuk menuju ke
tempat peradangan dan kemudian mengeluarkan berbagai zat antara lain Major
Basic Protein (MBP). Peninggian kadar eosinofil dalam darah terutama pada MBP.
3.
TNF-a.
Konsentrasi
plasma TNF-a meningkat pada penderita dermatitis atopik dibandingkan penderita
asma bronkhial.
4.
Sel T.
Limfosit
T di daerah tepi pada penderita dermatitis atopik mempunyai jumlah absolut yang
normal atau berkurang. Dapat diperiksa dengan pemeriksaan imunofluouresensi
terlihat aktifitas sel T-helper menyebabkan pelepasan sitokin yang berperan
pada patogenesis dermatitis atopik.
5.
Uji tusuk.
Pajanan
alergen udara (100 kali konsentrasi) yang dipergunakan untuk tes intradermal
yang dapat memacu terjadinya hasil positif.
Pemeriksaan biakan dan resistensi kuman dilakukan bila ada infeksi sekunder untuk menentukan jenis mikroorganisme patogen serta antibiotika yang sesuai. Sampel pemeriksaan diambil dari pus tempat lesi penderita.
Pemeriksaan biakan dan resistensi kuman dilakukan bila ada infeksi sekunder untuk menentukan jenis mikroorganisme patogen serta antibiotika yang sesuai. Sampel pemeriksaan diambil dari pus tempat lesi penderita.
6.
Dermatografisme Putih.
7.
Penggoresan pada kulit normal
akan menimbulkan 3 respon, yakni : akan tampak garis merah di lokasi
penggoresan selama 15 menit, selanjutnya mennyebar ke daerah sekitar, kemudian
timbul edema setelah beberapa menit. Namun, pada penderita atopik bereaksi
lain, garis merah tidak disusul warna kemerahan, tetapi timbul kepucatan dan
tidak timbul edema.
8.
Percobaan Asetilkolin.
Suntikan
secara intrakutan solusio asetilkolin 1/5000 akan menyebabkan hiperemia pada
orang normal. Pada orang Dermatitis Atopik. akan timbul vasokontriksi, terlihat
kepucatan selama 1 jam.
9.
Percobaan Histamin.
Jika
histamin fosfat disuntikkan pada lesi penderita Dermatitis Atopik. eritema akan
berkurang, jika disuntikkan parenteral, tampak eritema bertambah pada kulit
yang normal. (Dermatitis atopic pada anak. 17 Mei 2009. Diunduh dari www.
childrenallergyclinic.wordpress.com, 26 April 2011.)
K. PAHTWAYS
KEPERAWATAN.
![]() |
![]() |
L. FOKUS
INTERVENSI DAN RASIONAL.
1. Kerusakan
integritas kulit b.d terpapar allergen.
Tujuan:
Setelah diberikan tindakan keperawatan 3x24 jam kondisi kulit klien menunjukkan
perbaikan.
Kriteria hasil :
Klien akan
mempertahankan kulit agar mempunyai hidrasi yang baik dan turunnya peradangan,
ditandai dengan:
-
Mengungkapkan peningkatan
kenyamanan kulit.
Berkurangnya derajat pengelupasan kulit, berkurangnya.
Berkurangnya derajat pengelupasan kulit, berkurangnya.
-
kemerahan, berkurangnya
lecet karena garukan, penyembuhan area kulit yang telah rusak.
Intervensi:
·
Mandi paling tidak
sekali sehari selama 15 – 20 menit. Segera oleskan salep atau krim yang telah
diresepkan setelah mandi. Mandi lebih sering jika tanda dan gejala meningkat.
Rasional :
dengan mandi air akan meresap dalam saturasi kulit. Pengolesan krim pelembab
selama 2 – 4menit setelah mandi untuk mencegah penguapan air dari kulit.
·
Gunakan air hangat
jangan panas.
Rasional : air
panas menyebabkan vasodilatasi yang akan meningkatkan pruritus.
·
Gunakan sabun yang
mengandung pelembab atau sabun untuk kulit sensitive. Hindari mandi busa.
Rasional : sabun
yang mengandung pelembab lebih sedikit kandungan alkalin dan tidak membuat
kulit kering, sabun kering dapat meningkatkan keluhan.
·
Kolaborasi:
oleskan/berikan salep atau krim yang telah diresepkan 2 atau tiga kali per
hari.
Rasional : salep
atau krim akan melembabkan kulit. (Djuanda,. 2007)
2. Resiko
infeksi b.d kerusakan jaringan dan peningkatan paparan lingkungan.
Tujuan
: Setelah dilakukan tindakan keperawatan resiko infeksi dapat di hindari.
Kriteria
hasil :
-
Klien bebas dari tanda
dan gejala infeksi.
-
Mendeskrisikan proses
penularan,faktor yang mempengaruhi penularan.
-
Menunjukan kemampuan
untuk mencegah timbulnya infeksi.
-
Menunjukan prilaku
hidup sehat.
Intervensi
:
·
Monitor tanda dan
gejala infeksi.
·
Berikan perawatan
kulit.
·
Membuang jaringan yang
mati.
·
Anjurkan klien mencuci
tangan sebelum melakukan tindakan.
·
Anjurkan klien untuk
mandi dengan air hangat yang diberi sabun (detol) dan keringkan dengan handuk
yang bersih.
·
Berikan therapy
antibiotik.
Rasional :
·
Mengobservasi keadaan
kulit akan adanya tanda infeksi.
·
Mengugrangi resiko
infeksi.
·
Mempercepat
penyembuhan.
·
Mencegah penyebaran
mikroorganisme.
·
Untuk mencegah tumbuhnya
mikro organisme penyebab infeksi.
·
membunuh mikro
organisme penyebab infeksi.
3. Gangguan
rasa nyaman nyaman (nyeri : gatal) b.d agen injuri atau allergen.
Tujuan:
Setelah diberikan tindakan keperawatan 3x24 jam, rasa nyeri pasien dapat
berkurang.
Kriteria
Hasil:
-
Melaporkan nyeri
berkurang/ terkontrol.
-
Menunjukkan ekspresi
wajah/ postur tubuh rileks.
-
Berpartisipasi dalam
aktivitas dan tidur atau istirahat dengan tepat.
Intervensi:
·
Observasi keluhan
nyeri, perhatikan lokasi atau karakter dan intensitas skala nyeri (0-10 ).
Rasional: dapat
mengidentifikasi terjadinya komplikasi dan untuk intervensi selanjutnya.
·
Ajarkan tehnik
relaksasi progresif, nafas dalam guided imagery.
Rasional:
membantu klien untuk mengurangi persepsi nyeri atau mangalihkan perhatian klien
dari nyeri.
·
Kolaborasi: Berikan
obat sesuai indikasi topikal maupun sistemik; pentoksifilin.
Rasional:
pemberian obat membantu mengurangi efek peradangan.
4. Gangguan
pola tidur b/d pruritus, nyeri.
Tujuan
: Setelah diberikan tindakan keperawatan 3x 24 jam klien bisa beristirahat secara optimal.
Kriteria Hasil :
-
Mencapai tidur yang
nyenyak.
-
Mempertahankan kondisi
lingkungan yang tepat.
-
Menghindari konsumsi
kafein.
-
Mengenali tindakan
untuk meningkatkan tidur.
-
Mengenali pola istirahat/tidur
yang memuaskan.
Intervensi :
·
Nasihati klien untuk
menjaga kamar tidur agar tetap memiliki ventilasi dan kelembaban yang baik.
Rasional: Udara
yang kering membuat kulit terasa gatal, lingkungan yang nyaman meningkatkan
relaksasi.
·
Menjaga agar kulit
selalu lembab.
Rasional:
Tindakan ini mencegah kehilangan air, kulit yang kering dan gatal biasanya
tidak dapat disembuhkan tetapi bisa dikendalikan.
·
Menghindari minuman
yang mengandung kafein menjelang tidur.
Rasional: kafein
memiliki efek puncak 2-4 jam setelah dikonsumsi.
·
Melaksanakan gerak
badan secara teratur.
Rasional:
memberikan efek menguntungkan bila dilaksanakan di sore hari.
·
Mengerjakan hal ritual
menjelang tidur.
Rasional:
Memudahkan peralihan dari keadaan terjaga ke keadaan tertidur. (Djuanda,.2007)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar