Kamis, 20 Desember 2012

( KTI ) BAB 1 DERMATITIS


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG.
Dermatitis atopik (DA) merupakan suatu penyakit keradangan kulit yang kronik, ditandai dengan rasa gatal, eritema, edema, vesikel, dan luka pada stadium akut, pada stadium kronik ditandai dengan penebalan kulit (likenifikasi) dan distribusi lesi spesifik sesuai dengan fase dermtitis atopik, keadaan ini juga berhubungan dengan kondisi atopik lain pada penderita ataupun keluarganya. (Fauzi., 2009).
Faktor penyebab DA adalah kelainan herediter yang dipicu dengan adanya faktor pencetus / alergen. Beberapa penderita memiliki kecenderungan untuk menghasilkan antibodi berupa imunoglobulin E (IgE) secara berlebihan sebagai respon terhadap sejumlah alergen. Pada bayi dan anak-anak, alergen makanan (susu, telur, dan daging) lebih berperan. Seiring dengan pertambahan usia, peran alergen makanan cenderung menurun dan digantikan oleh alergen hirup seperti tungau debu rumah, bulu binatang, benda berbulu, atau bahkan keringat sendiri. (Bieber., 2008).
1
 
Penyebab dari peningkatan prevalensi dermatitis atopik belum sepenuhnya dimengerti. Riwayat keluarga yang positif mempunyai peran yang penting dalam kerentanan terhadap dermatitis atopik, namun faktor genetik saja tidak dapat menjelaskan peningkatan prevalensi yang demikian besar. Dari hasil observasi yang dilakukan pada negara-negara yang memiliki ethnis grup yang sama didapatkan bahwa faktor lingkungan berhubungan dengan peningkatan risiko dermatitis atopik (Flohr, et al., 2005 dalam Gondokaryono, 2009; Tay, 2002 dalam Leung, et al., 2007). Prevalensi dermatitis atopik lebih rendah di daerah pedesaan dibandingkan dengan daerah perkotaan yang dihubungkan dengan “hygiene hypothesis”, yang mendalilkan bahwa ketiadaan pemaparan terhadap agen infeksi pada masa anak-anak yang dini meningkatkan kerentanan terhadap penyakit alergi (Williams dan Flohr, 2006 dalam Bieber, 2008; Zutavern, et al., 2005 dalam Bieber, 2008).
Penyakit ini di alami sekitar 10-20% anak. Pada 70% kasus dermatitis atopik umumnya dimulai saat anak-anak dibawah 5 tahun dan 10% saat remaja / dewasa. (William H.C., 2005). Umumnya episode pertama terjadi sebelum usia di bawah 12 bulan dan episode-episode selanjutnya akan hilang timbul higga anak melewati masa tertentu. Sebagian besar anak akan sembuh dari ezkema sebelum usia 5 tahun. Sebgian kecil akan terus mengalami ezkema hingga dewasa. Diperkirakan angka kejadian dimasyarakat adalah sekitar 1-3% dan pada anak < 5 tahun sebesar 3,1% dan prevelensi dermatitis atopik meningkat 5-10% pada 20-30 tahun terahir. (Judarwanto., 2009).
Pada penderita dermatitis atopik 30% akan berkembang menjadi asma dan 30% berkembang menjadi rhinitis allergi. Berdasarkan internasional study of ashma, and alergies in children. Pervalensi gejala dermatitis atopik pada anak usia 6 / 7 tahun sejak periode tahun pertama bervariasi  yakni kurang dari 2% di Iran dan Cina sampai kira-kira 20% di Australia, Inggris,dan Skandinavia. Prevalensi juga di temukan di Amerika. Di inggris pada survai populasi pada 1760 anak-anak yang menderita dermatitis atopik dari 1-5 tahun di temukan kira-kira 84% kasus ringan, 14% kasus sedang, 2% kasus berat (William H.C., 2005). Menurut laporan kunjungan bayi dan anak di RS di Indonesia, dermatitis atopik berada pada urutan pertama (611 kasus) dari 10 penyakit kulit yang umum ditemukan pada anak-anak. Di klinik dermatoveneologi di RSUP dr. Sardjito Yogyakarta pada periode bulan februari 2005 sampai desember 2007, terdapat 73 kasus dermatitis atopik pada bayi (Budiastuti M., dkk., 2007). Sedangkan data di Unit Rawat Jalan Penyakit Kulit Anak di RSU dr. Soetomo di dapatkan jumlah pasien  dermatitis atopik mengalami peningkatan sebesar 116 pasen (8,14%) pada tahun 2006. Pada 2007 sebesar 148 pasien (11.05) sedangkan pada tahun 2008 sebanyak 230 pasien (11.65%) (Zulkarnain I., 2009). Prevelensi pada anak laki-laki sekitar 20%, 12 pasien pada tahun-tahun sebelum studi, 19% anak perempuan (11% pada tahun sebelum tahun 2000) (Tada J.,2002).
Prevalensi dermatitis di Provinsi Jawa Tengah sebesar 8%, tertinggi di Kabupaten Pemalang (15,7%), Sragen (13,8%), Salatiga (13,4%) dan terendah di Demak (2,2%),Magelang Kota (2,6%), Blora (2,8%). Dan di kendal terdata ada (11.5%). (Riskesdas Jateng 2007).
Alasan yang menguatkan penulis mengambil judul dermatitis atopik adalah  dari data pengkajian yang dilakukan pada tanggal 24-11-2011 di dapatkan dari keluarga klien, bahwa klien mempunyai riwayat alergi terhadap makanan, setelah klien makan makanan seperti kerang atau sosis, klien merasa gatal-gatal dan sehari setelahnya klien merasa sesak nafas. Dan klien juga mempunyai faktor pendukung lain yaitu faktor genetik, bahwa di dalam keluarga klien ada yang mempunyai riwayat alergi yang sama yaitu kakek dari klien. Hal tersebut diatas sesuai dengan teori yang di kemukakan oleh William 2005 dan Fauzi  2009.
Berdasarkan latar belakang diatas, penulis tertarik untuk mengangkat masalah-masalah ini menjadi masalah keperawatan utama dalam pembuatan karya tulis ilmiah dengan judul : “ Asuhan Keperawatan Anak Pada An. N Dengan Dermatitis Atopik di Ruang Dahlia  RSUD dr. H.SOEWONDO KENDAL.

B.     TUJUAN PENULISAN.
Untuk lebih konkritnya apa yang ingin dicapai dalam karya tulis ini, penulis mengemukakan pokok tujuan penulisan sebagai berikut :
1.      Tujuan umum.
Untuk mendapatkan gambaran dan pengalaman nyata tentang pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien An. N dengan dermatitis atopik selama tiga  hari pada tanggal 24 - 26 -2011 di ruang dahlia  RSUD dr. H.SOEWONDO KENDAL melalui pendekatan proses keperawatan.
2.      Tujuan khusus.
Setelah menyelesaikan karya tulis ini diharapkan penulis mampu :
a.       Melakukan pengkajian selama memberikan Asuhan Keperawatan kepada klien dengan masalah dermatitis atopik (DA).
b.      Merumuskan diagnosa keperawatan selama memberikan Asuhan Keperawatan kepada klien dengan masalah dermatitis atopik (DA).
c.       Merumuskan rencana tindakan selama memberikan Asuhan Keperawatan kepada klien dengan masalah dermatitis atopik (DA).
d.      Menyelesaikan masalah keperawatan yang dialami oleh klien dengan masalah dermatitis atopik (DA).
e.       Melakukan perencanaan tindak lanjut pada klien dengan masalah dermatitis atopik (DA).

C.    METODE PENULISAN.
Metode yang dipakai adalah dengan pendekatan proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi. Adapun teknik penulisan adalah deskriptif. Deskriptif merupakan gambaran kasus yang dikelola dengan cara pengumpulan data yang diperoleh saat pengkajian. Pengumpulan data diperoleh dengan   cara :
1.      Wawancara
Mengadakan tanya jawab dengan pihak yang terkait : klien maupun tim kesehatan mengenai data klien dermatitis atopik. Wawancara dilakukan selama proses keperawatan berlangsung.
2.      Observasi partisipasi
Dengan mengadakan pengamatan dan melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung pada klien selama di dahlia  RSUD dr. H.SOEWONDO KENDAL.
3.      Studi dokumentasi
Dokumentasi ini diambil dan dipelajari dari catatan medis, catatan perawatan untuk mendapatkan data-data mengenai perawatan maupun pengobatan.
4.      Studi kepustakaan
Menggunakan dan mempelajari literatur medis maupun perawatan yang menunjang sebagai teoritis untuk menegakkan diagnosa dan perencanaan keperawatan.

D.    SISTEMATIKA PENULISAN.
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai karya tulis ilmiah ini, penulis menggunakan sistematika penulisan yang terdiri dan lima bab yaitu:
Bab I    :   Berisi tentang pendahuluan yang meliputi latar belakang, tujuan penulisan, metode, dan sistematika penulisan.
Bab II   :   Berisi tentang konsep dasar yang meliputi: pengertian, anatomi fisiologi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis, penatalaksanaan medis, komplikasi, pathways, diagnosa keperawatan, dan fokus intervensi.
Bab III :   Berisi tentang tinjauan kasus yang membahas kasus pasien meliputi pengkajian, analisa data, pathways, diagnosa, intervensi keperawatan, implementasi, dan evaluasi.
Bab IV :   Berisi tentang pembahasan kasus yang bertujuan untuk menemukan kesenjangan antara teori dan fakta yang ada mulai dari pengkajian, analisa data, pathways, diagnosa, intervensi, implementasi, dan evaluasi.
Bab V  : Berisi kesimpulan dan saran-saran tentang kasus yang dibahas dan dapat menjadi pemikiran selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar